Menunggu Gerilyawan Turun Gunung Bag4

Kini ia ragu apakah dapat menggunakan kemampuannya dalam keadaan damai. Mendoza, kini 29 tahun, yang belajar sampai kelas V sekolah dasar, memiliki sedikit uang dan pengetahuan terbatas tentang dunia di luar pegunungan terpencil Kolombia—lokasi markas FARC. ”Jika Tuhan berkehendak, saya akan bertahan. Apa lagi yang bisa saya lakukan?” ucapnya pasrah memandang pistol 9 milimeter di pinggangnya.

Kekhawatiran mereka tak melulu soal integrasi. Para gerilyawan juga takut menghadapi pembalasan kelompok paramiliter sayap kanan yang dibiayai kartel narkotik dan para tuan tanah—musuh ideologi FARC. Berdasarkan kesepakatan yang diteken kedua pihak di Havana, Kuba, itu, FARC setuju menyerahkan senjata kepada tim pengawas Perserikatan Bangsa-Bangsa.