“Jadi, mau tidak mau, anak saya harus masuk inkubator setelah lahir. Ternyata, perawatan inkubator yang dijalankan selama satu minggu tidak ditanggung oleh BPJS Kesehatan. Jadi, saya harus mengeluarkan biaya tambahan untuk itu.” Akibat kesimpangsiuran informasi, Mama Ullee Yulieko juga merasa kecewa, seperti yang ditulisnya fan page FB nakita. Katanya, walau menggunakan kepesertaan BPJS Kesehatan, tetap ada biaya yang harus dikeluarkan, yaitu biaya tambahan obat-obatan pascasesar yang tidak ditanggung BPJS Kesehatan.

Baca juga : Beasiswa d3 ke S1 Luar Negeri

Bukan Plafon Tapi Rum

Menanggapi kasus-kasus ini, Irfan Humaidi, Humas BPJS Pusat, menjelaskan, sebenarnya semua sudah diatur dalam kebijakan BPJS Kesehatan. berbagai kebijakan itu pun sudah disosialisasikan kepada mitra BPJS Kesehatan. Mengenai kasus Bapak Ridwan, menurut Irfan, informasi yang didapat Bapak Ridwan adalah benar, bahwa tidak ada batasan biaya dan masa rawat untuk bayi prematur. BPJS Kesehatan bukan asuransi kesehatan swasta yang mempunyai plafon, yang jika plafonnya habis atau tidak mencukupi, maka peserta asuransi harus membayar selisih atau kelebihannya.

Adapun Permenkes No. 59 tahun 2014, pasal 17 ayat 1 menyatakan: Tarif rawat jalan dan rawat inap di rumah sakit yang bekerja sama de ngan BPJS Kesehatan diberlakukan tarif INA-CBG’s (IndonesianCasbased Groups) berdasarkan kelas rumah sakit. Hal ini bukan berarti BPJS memberlakukan plafon. Contoh, pada pasal 20 ayat 3 huruf b disebutkan: Bila diperlukan tambahan hari pengobatan, obat diberikan terpisah di luar paket INACBG’s dan harus tercantum pada Formularium Nasional.

Intinya, kebijakan-kebijakan yang ditetapkan oleh pemerintah mengenai BPJS Kesehatan adalah untuk menghindari ada nya pengobatan yang irasional. De ngan bahasa lain, pengobatan Rational Use Medicine (RUM) harus ditegakkan dan digunakan oleh BPJS Kesehatan. “Jadi, jika dinilai secara medis bayi Bapak Ridwan dan bayi Mama Tanjung Wijaya harus dan perlu mendapatkan penanganan medis yang biayanya lebih dari 6 juta, maka pihak BPJS Kesehatan akan menanggungnya,” papar Irfan. Begitu juga dengan operasi sesar yang dialami oleh Mama Ullee Yulieko. Jika memang benar secara medis, biaya yang ditagih oleh rumah sakit tidak perlu ditanggung pasien, tetapi oleh BPJS Kesehatan.

Sumber : https://ausbildung.co.id/