Baterai Masa Depan Berukuran Kompak Produksi Net89 | Setelah jenis NiMH, NiCad, Lithium Ion menjadi andalan produsen mobil listrik untuk menunjang tenaganya. Namun, baterai jenis lain terus dipikirkan untuk meneruskan generasi Lithium Ion. Semakin bertumbuhnya perkembangan mobil listrik, tentu mendorong juga perkembangan jenis baterai listrik yang menyokong tenaga pada jenis mobil tersebut. Saat ini, jenis baterai Lithium Ion masih banyak digunakan oleh produsen-produsen mobil listrik.

Jenis baterai ini selain cepat diisi, juga memiliki kapasitas listrik lebih besar. Namun kini, beberapa produsen besar ingin sesuatu yang lebih dari sekadar Lithium Ion. Salah satu contoh yang sedang dikembangkan oleh Toyota adalah baterai Solid State dan Lithium Air. Baterai yang lebih ringkas Sejak dua atau liga tahun lalu, beberapa produsen mobil listrik dan baterai sudah memikirkan untuk mengembangkan dan melakukan penelitian untuk baterai listrik di masa depan. Jenis baterai yang sedang diperhatikan adalah Solid State dan Lithium Air.

Bahkan, Toyota sejak tahun 2010 sudah mempercepat penelitiannya pada dua jenis baterai tersebut. Baterai Solid State diyakini dapat menjadi penerus jenis Lithium Ion karena mampu memberikan kepadatan energi hingga tiga kali lipat dari baterai Lithium Ion. Solid State juga mampu memberikan ukuran baterai yang lebih kompak karena elektrolit cair sudah dimodifikasi sedemikian rupa menjadi elektrolit padat sehingga memungkinkan setiap sel terhubung tanpa casing individu lagi. Inilah yang membuat ukurannya menjadi lebih kompak. Berbeda dengan jenis baterai Lithium Air.

Baterai jenis ini menggunakan oksigen sebagai bahan aktif katoda. Adanya unsur udara ini, tentu saja dapat mengurangi berat baterai secara keseluruhan. Kepadatan energinya pun juga menjadi lebih baik dibandingkan Lithium Ion dengan mengubah material elektroda negatif menjadi metallic lithium. Toyota sendiri berencana untuk menggunakan baterai Solid state ini untuk awal tahun 2020-an. Baterai Solid State bisa memberikan jangkauan yang lebih panjang (300 kilometer) dengan satu kali pengisian saja.

Cara kerja Pre Collision Assist

Teknologi ini memanfaatkan sebuah kamera di kaca depan dan sebuah radar yang diposisikan di dekat bumper. Kamera dan radar ini selalu bekerja bersama untuk mengawasi objek yang ada di depannya saat kendaran berjalan. Saat objek tiba-tiba muncul untuk menyeberang jalan dan masuk dalam area pengawasan radar, pengemudi akan menerima peringatan dalam bentuk audio dan visual.

Saat pengemudi tidak menyadari ada objek di depannya yang muncul tiba-tiba, sistem akan langsung meresponsnya dengan mengaktifkan fungsi rem secara otomatis guna mengurangi jarak antara kendaraan dengan objek di depannya. Sebelum digunakan secara umum untuk Ford Mondeo tahun depan, teknologi ini sudah mengalami pengujian hingga 300.000 mil dengan berbagai kondisi dan situasi yang ada di jalan raya.

Sumber : net89.net