Mimpi Buruk Sang Kanselir Bagian 2

”Kita harus menganggap ini sebagai serangan teroris,” ujarnya. Sikap senada pernah dilontarkan Presiden Prancis Francois Hollande pada 15 Juli lalu. Saat itu insiden truk maut menewaskan 84 orang di Kota Nice di Prancis selatan saat perayaan Bastille Day. Hanya butuh satu hari bagi Hollande untuk menyebut insiden itu serangan teror.

Namun, berbeda dengan Hollande, Merkel menuai kritik tajam akibat tragedi di Berlin. Sopir truk maut, Anis Amri, rupanya warga Tunisia. Bersama ribuan pengungsi lain, pria 24 tahun itu masuk Jerman dari Italia pada Juli 2015. Setahun kemudian, Amri melamar suaka di North Rhine Westphalia tapi ditolak. ”Kasus Amri memicu pertanyaan. Tidak hanya tentang kejahatan ini, tapi juga yang terjadi sebelum ia memasuki Jerman,” ujar Merkel.

Merkel mengakui ada celah, bahkan lubang, dalam prosedur penerimaan pengungsi. Itu memicu pengungsi seperti Amri, yang belakangan diketahui berbaiat kepada Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) sebelum melancarkan teror di Berlin, bisa lolos dan tinggal di Jerman. ”Kami akan memeriksa intensif sejauh mana prosedur resmi perlu diubah,” ucapnya.