Angkat Sauh Feri Jarak Jauh Bagian3

Waktu tempuh Jakarta-Surabaya ditargetkan 22 jam, lebih cepat 8 jam ketimbang perjalanan darat. Untuk rute ini, ASDP akan mengerahkan kapal terbesar mereka, KMP Portlink III, yang bobotnya mencapai 15 ribu gross tonnage. Deknya mampu menampung 250 unit kendaraan campuran. ”Tapi, kalau diisi truk besar, kami batasi paling banyak 113 unit,” tutur Faik. Selama ini Portlink III beroperasi di jalur Merak-Bakauheni. Kapasitas kapal buatan 1986 itu terlalu besar untuk rute jarak pendek. Di Selat Sunda, ASDP hanya bisa mengoperasikan kapal ini 12 kali dalam satu bulan.

Akibatnya, menurut Faik, produktivitasnya rendah. Ia menilai pelayaran jarak jauh lebih cocok untuk Portlink III. Faik optimistis jalur pelayaran yang menghubungkan kedua ujung Pulau Jawa ini bisa jadi alternatif menampung pertumbuhan jumlah truk yang mencapai 6- 10 persen per tahun. Pelayaran feri, kata dia, merupakan solusi bagi angkutan barang yang tidak bisa beroperasi setiap musim liburan panjang, seperti Lebaran dan Natal. ”Di musim liburan, truk biasanya dilarang melintas di jalan tol,” ujar Faik. ”Larangan ini bisa menghambat aktivitas perekonomian.” Kendati jalur laut diklaim punya seabrek keunggulan, sopir truk mengeluhkan mahalnya biaya pelayaran.

Ivan, misalnya, harus merogoh Rp 4 juta bila naik feri dari Tanjung Perak ke Lembar—lebih mahal Rp 400 ribu dibanding ongkos jalur darat. Faik menyadari hal ini. Dia bahkan bercerita, pengelola pelabuhan di Surabaya masih memberlakukan tiket untuk kendaraan yang diangkut truk. ”Ada kejadian truk pengangkut sepeda motor milik dealer dikenai tarif sebesar jumlah unit kendaraan yang diangkut,” kata Faik. ”Akibatnya, biaya jadi sangat mahal.” Ketua Organisasi Pengusaha Angkutan Darat Tanjung Perak Kody Lamahayu menilai feri jarak jauh harus menawarkan biaya murah bila ingin menarik minat pengusaha logistik.

Sebagian besar pengusaha, kata dia, masih memilih jalur darat karena biaya bahan bakar minyak lebih murah daripada tarif feri. ”Proft bisa habis untuk bayar kapal.” Apalagi biaya angkut saat ini anjlok di kisaran Rp 600-700 per ton per kilometer dari Rp 2.500 per ton per kilometer. ”Ini terjadi sejak dua tahun lalu karena ekonomi lesu,” ujar Kody. Menteri Budi Karya berjanji memberikan insentif untuk menekan biaya feri. Untuk menggenjot penggunaan jalur laut, ia berencana mengeluarkan aturan pembatasan truk di jalan raya.

ASDP juga sudah mengajukan subsidi kepada pemerintah agar harga tiket bisa ditekan. Pemerintah daerah menyambut baik pelayaran feri jarak-jauh ini. Gubernur Jawa Timur Soekarwo menilai kombinasi pengangkutan barang melalui truk dan kapal laut akan efektif menekan disparitas harga barang antarpulau. Dia berharap jalur pelayaran seperti ini menjangkau pulau-pulau terpencil yang moda transportasinya masih terbatas.