Kanker adalah sel enigmatik, penuh teka-teki. Keganasan, variasi mutasi, juga kecepatannya berlipat ganda, belum sepenuhnya dipahami. Pasien berkejaran dengan waktu. Jika tak segera ditangani dengan tepat, kanker bakal menyebar secara sistemik terbawa aliran darah ke sekujur tubuh. Itu sebabnya semua alat terapi harus teruji secara klinis dengan benar. ”Tak bisa main-main,” katanya.

Alat ciptaan Warsito memang inovasi yang layak diacungi jempol. Warsito pun mendapat berbagai penghargaan, antara lain Tokoh Tempo 2006 dan B.J. Habibie Award pada 2015. Namun, untuk bisa diterapkan pada manusia, ”Tetap harus mengikuti prosedur,” ujar Siswanto. ECCT wajib menjalani uji praklinis dan, jika terbukti positif bagi penyembuhan kanker, penelitian boleh berlanjut ke tahap uji klinis pada pasien manusia. Pemerintah kemudian menganjurkan ribuan pasien lama Warsito kembali ke pengobatan medis.

Delapan rumah sakit siap menampung, yakni RS Hasan Sadikin, RS Dr Karyadi, RS Cipto Mangunkusumo, RS Sanglah,RS Persahabatan, RS Sardjito, RS Dr Soetomo, dan RS Kanker Dharmais. ”Namun, jika pasien tetap ingin menggunakan ECCT, kami juga tidak bisa melarang,” kata Siswanto. Warsito pun tidak menentang keputusan Tim Review. Dia meminta pasiennya mengembalikan alat jaket listrik yang ia pinjamkan dan kembali pada terapi medis.

Tapi, hingga awal April lalu, hanya seperempat dari 3.000 pasien yang mengembalikan jaket ECCT. ”Sudah kami telepon satu per satu, hanya seperempat yang mau,” ujarnya. Namun validitas data pasien ini pun menjadi pertanyaan. Kelengkapan data pasien ini pula yang dituding membuat kontroversi makin keruh. Siswanto menyebutkan berulang kali pemerintah meminta data 3.000 pasien Warsito, tapi hanya ratusan data yang diserahkan. Itu pun hanya berupa daftar nama dan alamat. Tak ada riwayat perjalanan penyakit, tahapan biopsi, roentgen, atau serial tes darah, yang layak disebut rekam medis.

Akibatnya, Kementerian kesulitan menguji validitas protokol pengobatan ala Warsito. Warsito bukannya tak pernah menguji alat temuannya. Penelitian pertama, 2010, uji laboratorium membuktikan bahwa ECCT menyusutkan sel kanker. PT Edwar Technology, perusahaan milik Warsito, pun menghubungi pemerintah untuk meminta arahan. Permintaan ini disambut Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Kesehatan, yang menerbitkan surat ”Persetujuan Etik”, Maret 2012, yang berisi kesepakatan uji protokol terapi ECCT pada pasien yang menjalani terapi.

Selagi uji protokol berlangsung, Warsito tidak boleh menerima pasien baru. Sayangnya, uji protokol ini berhenti di tengah jalan. Salah satu sebabnya, menurut Siswanto, pihak Warsito tidak terbuka memberikan data pasien.

Website : kota-bunga.net