DERETAN kursi panjang terdiam kosong. Rumah toko C-Care Riset Kanker di Alam Sutera, Tangerang, Banten, sepi. Tak ada lagi puluhan orang yang biasanya duduk antre di sana. Warsito Purwo Taruno, sang pemilik tempat, duduk bersama sepasang laki-laki dan perempuan. ”Ini pasien lama saya,” kata Warsito, 5 April lalu. Mati suri. Itulah kondisi Klinik Warsito sejak Kementerian Kesehatan mengimbau agar kliniknya tidak beroperasi, November 2015.

Doktor teknik elektro lulusan Universitas Shizuoka, Jepang, ini tak boleh menerima pasien baru dan hanya melayani pasien lama. Sejak Januari lalu, 100-an pegawainya telah diberhentikan. Indira Abidin, dari PT Fortune Indonesia, menyayangkan keputusan pemerintah melarang Klinik Warsito melayani pasien baru. Toh, harus diakui bahwa infrastruktur kita hanya mampu menampung 15 persen penyandang kanker. Artinya, 85 persen pasien—sekitar 300 ribu—tidak bisa ditangani rumah sakit.

”Mbok ya direlain pasien datang ke pengobatan lain,” ujar Indira, yang merasakan manfaat terapi Warsito. Rela atau tidak rela agaknya bukan itu soalnya. Menurut Evalina Suzanna dari Perhimpunan Onkologi Indonesia, ada ratusan pasien Warsito yang datang ke rumah sakit dalam kondisi memburuk. Mantan pasien Warsito yang ditangani di RS Dharmais biasanya permukaan kulitnya hangus terkena panas listrik.

”Sel-sel kankernya tidak mati, malah menyebar luas,” katanya. ”Inilah yang harus diteliti.” Pemerintah, Evalina menambahkan, harus bisa menjamin keamanan terapi pengobatan, apalagi yang menggunakan terminologi medis seperti klinik. Demi menjernihkan kontroversi, Desember tahun lalu, Kementerian Kesehatan membentuk Tim Review Electrical Capacitance Volume Tomography (ECVT) dan Electrical Capacitive Cancer Therapy(ECCT), dua alat ciptaan Warsito.

Alat ECCT adalah jaket listrik pembunuh sel kanker. Lalu ECVT pemindai empat dimensi yang sanggup memantau keberadaan sel kanker. Anggota Tim Review cukup komprehensif. Barisan ahli datang dari Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia dan Universitas Airlangga, Perhimpunan Onkologi Indonesia, serta Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Kesehatan. Berbagai aspek dievaluasi.

Hasilnya, ECCT dan ECVT belum terbukti aman dan bermanfaat. ”Kalau tetap digunakan bisa berakibat buruk pada pasien,” ujar Siswanto, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Kesehatan.