petani padi menginginkan malai yang berisikan bulir yang bening, bersih, dan berbobot. pedagang berani membeli padi yang bermutu tinggi ini dengan harga relatif lebih tinggi. di sinilah pentingnya petani mengendalikan penyakit blas dan patah leher pada tanaman padi. nah, di depan stan pt basF indonesia pada pekan peramalan opt ii yang dilaksanakan balai besar peramalan organisme pengganggu tumbuhan (bbpopt ), ditjen tanaman pangan, kementerian pertanian, di Jatisari, karawang, 23-29 mei lalu, ada pemandangan penimbangan bobot padi. penimbangan ini dilakukan aziz Wicaksono, petugas lapangan perusahaan kimia itu.

di dalam satu gelas air mineral terdapat 1.000 bulir padi, yang pada masa penanaman padinya mendapat perlakuan seltima 100 cs, yang berbahan aktif piraklostrobin. satu gelas lagi 1.000 bulir yang tanaman padinya tanpa mendapatkan perlakuan pestisida yang mampu mengatasi blas daun dan patah leher itu. bobot bulir padi dengan perlakuan seltima lebih berat sekitar 8 persen.

“Yang pakai seltima, gabahnya lebih bening dan pengisiannya full,” kata aziz. menurut Wirastanto, pengisian padi yang mendapat perlakuan seltima lebih optimum ketimbang tanpa perlakuan. “gabah sama gedenya. Yang mendapat perlakuan lebih berisi, sedangkan yang tidak, kurang berisi, sehingga kalau kita timbang, yang tidak mendapat perlakuan seltima lebih ringan bobotnya,” tutur marketing manager crop protection pt basF indonesia, selasa (25/5).

Kesehatan daun bendera pengisian gabah ini tergantung pada kesehatan daun bendera padi. “kalau daun bendera ini bisa dijaga hijau terus, maka pengisian bulir akan jalan terus. kalau daun bendera loyo, menguning, maka pengisian akan loyo,” kata Wirastanto ketika ditemui di Jatisari, karawang, selasa (25/5). cendawan (jamur) Pyricularia orizae merupakan penyebab blas daun dan patah leher padi. penyakit ini dapat menyerang padi umur 40-60 hari setelah tanam (hst).

akibatnya, kualitas daun bendera padi menjadi loyo, fotosintesis terganggu, dan malai tidak tumbuh optimal. seltima diaplikasikan pada umur 40- 45 hst dan 55-60 hst. “dengan seltima, nilai tambahnya, daun bendera selalu hidup. daun bendera hijau terus. gabah padi jauh lebih berat. pengisian gabahnya benar-benar full,” katanya. pada pekan peramalan opt ii ini basF tidak hanya menampilkan seltima 100 cs, tetapi juga standaktop 500 Fs. “standaktop ini untuk perlakuan benih. Yang pakai standaktop, akarnya lebih banyak, daun lebih hijau, rimbun, bibit lebih tegak, dan daun lebih tegak. begitu pindah tanam, lebih cepat hidup.

Yang tidak pakai standaktop, daun loyo dan patah,” kata Wirastanto. kuncinya standaktop itu memperbanyak akar. “kalau akar lebih banyak, waktu pindah tanam cepat tumbuh. pada hari ke-10 hst dia sudah bikin anakan. anakannya tumbuh lebih cepat dan tumbuh lebih banyak. kalau anakannya banyak maka produksinya bisa lebih banyak,” tandasnya.

dengan mengaplikasikan standaktop dan seltima, anakan padi banyak dan pengisian bulirnya pun penuh. “hasil akhirnya tergantung kondisi alam dan kemurahan allah sWt,” papar Wirastanto.

Website : Kota-Bunga.net