Prenjak Menang di Cannes

WREGAS Bhanuteja, 23 tahun, memenangi penghargaan flm pendek terbaik dalam Pekan Kritikus Internasional yang digelar bersama Festival Film Cannes 2016 di Prancis, akhir Mei lalu. Lewat flm berdurasi 12 menit, Prenjak (In the Year of Monkey), Wregas pulang membawa Leica Cine Discovery Prize sebesar 4.000 euro. Prestasi ini merupakan yang pertama bagi sineas Indonesia.

Sebelum membuat Prenjak, Wregas membuat sejumlah karya: Senyawa, Lemantun, Lembusura, dan Floating Chopin. Dua flm yang terakhir berlaga di Festival Film Berlin 2015 dan Festival Film Hong Kong 2016. Hampir semua flm Wregas berlatar belakang kampung halamannya: Yogyakarta.

Djaduk dan Wabah Jazz Kampung

Tahun ini begitu banyak festival jazz yang digelar di berbagai tempat yang tak lazim, dari gunung sampai candi. Bisa disebut ini wabah yang ditularkan Djaduk Ferianto. Bermula dari Jazz Gunung yang diselenggarakan Djaduk di Bromo dan Ngayogjazz yang dilakukan di kampung-kampung Yogyakarta, kini festival jazz semakin merambah ke lokasi-lokasi lain.

Dari tepi sungai (Musi Jazz Sriwijaya Festival, Mahakam Jazz Festival Fiesta), pantai (Banyuwangi Beach Festival, Bunaken Jazz Festival), hingga candi (Prambanan Jazz, Jazz Majapahit). Bagi Djaduk, jazz bukan musik elitis, yang hanya bisa dinikmati segelintir orang, melainkan musik milik publik, yang bisa bersentuhan dengan alam dan tradisi.