Blue Ocean Strategy Ecopreneurship!

Blue Ocean Strategy atau Strategi Samudera Biru adalah sebuah strategi yang mencari suatu peluang bisnis yang tidak dilakukan dan dijalankan oleh kebanyakan pihak yang akhirnya menjadi pesaing potensial, sehingga mereka yang menjalankannya tidak perlu berdarah-darah dalam memenangkan persaingan yang serba ketat, dan cenderung kejam.

Baca juga : kursus SEO Terbaik

Kondisi habis-habisan, inilah yang diistilahkan sebagai Red Ocean atau Samudera Merah. Bila seorang pelaku bisnis berdarah-darah karena harus bersaing secara masuk ke dalam persaingan seperti ini, langkah-langkah bisnis yang mereka lakukan menjadi kurang produktif. Kenapa? Karena kondisi seperti ini menciptakan kegiatan yang saling menjatuhkan, saling serang, dan biasanya terjadi perang harga.

Sedangkan dalam sebuah Blue Ocean, persaingan seperti itu nyaris tidak ada lagi. Atau sejatinya tidak diperlukan lagi. Pasalnya, dalam strategi tersebut, si pebisnis melakukan berbagai hal kreatif dan inovatif dengan menciptakan sesuatu yang tidak dilakukan oleh para pesaingnya. Sehingga pebisnis yang melakukan strategi ini bisa keluar sebagai “pemenang” dalam persaingan bisnisnya. Ada empat hal utama yang biasa dilakukan dalam Blue Ocean Strategy, yaitu:

• Addition: Meningkatkan dan menambah berbagai hal yang tidak ada atau tidak tersedia pada produk pesaing. • Reduce: Mengurangi hal-hal yang dianggap tidak perlu pada produk pesaing sehingga membuat produk baru ini lebih efi sien dan tentunya menjadi lebih ekonomis. • Eliminate: Menghilangkan hal-hal yang akan membuat produk menjadi terlalu membebani.

• Change: Menciptakan dengan mengganti dan mengubah beberapa hal agar produk lebih istimewa Di sisi lain, isu mengenai lingkungan yang rusak, air tanah yang tercemar dan terkontaminasi, polusi udara yang makin mengkhawatirkan dan bumi yang sudah semakin menderita, saat ini menjadi sorotan masyarakat dunia. Tak terkecuali di Indonesia. Bukan hanya bumi dan lingkungannya yang teran cam akibat aktivitas penyampahan yang berlebihan dan peng gunaan bahan-bahan kimia tidak terkontrol, tetapi juga sudah sangat berpengaruh kepada kesehatan manusia yang terpapar baik langsung maupun tidak langsung.

Di negara-negara maju, tuntutan mengenai penyelamatan bumi dari pembebanan yang berlebihan sudah semakin tegas. Sehingga sudah semakin banyak masyarakat dunia yang jauh lebih menghargai produk-produk yang lebih ramah terhadap lingkungan dan lebih memperhatikan pelestarian ekosistem. Bergerak dari kondisi di atas, terlahirlah ecopreneurship.