Pentas Teater Payung Hitam, Post Haste di Bandung

TEATER Payung Hitam merupakan organisasi nonproft yang didirikan pada 1982 oleh Rachman Sabur, Sistriadji, Nandi Rifandi, dan Budi Sobar, yang disahkan dengan akta notaris dengan nama Yayasan Payung Hitam pada 29 November 2007. Nama Payung Hitam diambil dari nama pertunjukan mereka berempat di Hotel Panghegar, Bandung, pada 1982. Hampir tiap tahun Payung Hitam kemudian memproduksi teater tubuh sehingga lambat-laun lahirlah idiom-idiom khas mereka. ”Pementasan Post Haste ini merupakan retrospeksi kami back to zero,” kata Rachman. Ia ingin memandang ulang bagaimana ia memilih jalan teater fsik atau teater tubuh. ”Terutama keaktoran. Bagaimana kami ingin mereposisi apa yang disebut keaktoran. Keaktoran bukan hanya timbul dari tradisi realisme,” kata Rachman. Tak dimungkiri, sebagaimana para sutradara dan aktor lain, Rachman awalnya menggeluti realisme.

Lalu datanglah kegundahan itu. Ia merasa cara berakting, apalagi ketika mementaskan naskah terjemahan terasa tak pas. Transformasi kebertubuhan sebatas teknis. ”Saya merasa ganjil misalnya melihat pementasan Shakespeare dengan kostum-kostum klasik Barat tapi ”cengkok”-nya tetap Melayu. Persoalan saya adalah kebertubuhan. Saya ingin mencari kebertubuhan Indonesia, bukan tubuh Prancis, tubuh Jerman, tubuh Jepang, dan sebagainya.” Rachman mengakui pandangannya terhadap potensi teater tubuh terkuak setelah ia melihat pementasan Sardono W. Kusumo, Metaekologi, di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, pada 1979. ”Saya sangat terpengaruh oleh pertunjukan di lumpur itu.” Rachman kemudian, kalau kita lihat pementasan-pementasannya, seolah-olah memiliki pandangan bahwa masyarakat kita adalah masyarakat sakit.

Tubuh manusia Indonesia menjadi korban perebutan berbagai kepentingan politik dan kemudian kapital. Tubuh didikte, diolah, dibentuk, dan diarahkan oleh politik. Sangat monumental bagaimana pada zaman Orde Baru, Rachman Sabur berusaha menafsirkan naskah Peter Handke, Kaspar, ke dalam situasi aktual. Sebuah pertunjukan yang memunculkan aktor kuat Tony Broer. Kaspar aslinya adalah kisah nyata tentang seorang lelaki aneh bisu yang tiba-tiba muncul di Nuremberg, Jerman, pada 1828. Ia tak bertingkah laku seperti manusia; seolah-olah tak mengenal peradaban. Rachman mengadaptasi Kaspar menjadi sosok tunawicara, seorang dewasa yang berpikiran kerdil lantaran otaknya terlalu dicekoki oleh ideologi.

Panggung diisi akting Tony Broer yang gundul, gagap bicara, dan hanya bisa mengeluarkan kata-kata yang diinstruksikan suara anonim dari mikrofon. Tubuhnya tak bisa membebaskan diri dari instruksi itu. Pengamat dari Australian National University, Virginia Matheson Hooker, pernah menjelaskan bahwa retorika pidato Orde Baru adalah impersonal, antidialog, menekankan citra stabilitas dengan pengulangan kosakata tertentu secara terencana dan konsisten. Dalam pertunjukan Kaspar, suara anonim dari loudspeaker itu dibuat Rachman terus-menerus mencecarkan perintah yang berulang-ulang. ”Saat saya pentaskan di Jerman, beberapa penonton kaget.

Mereka bilang sebelumnya pernah melihat pementasan Kaspar. Tapi tafsirnya mengarah ke kelucuan-kelucuan.” Sepanjang Orde Baru, Rachman kemudian kita lihat semakin mengolah idiom tubuh dan daya tahan terhadap kesakitan dan ancaman. Pertunjukan Merah Bolong Putih Doblong Hitam adalah karya monumentalnya yang lain. Karya ini terus-menerus dimainkan, hingga terakhir tahun lalu dipentaskan di Seattle, Amerika Serikat.

Sejak menit awal sampai akhir, panggung diisi oleh batu-batu berayun yang nyaris mengenai tubuh para aktor. Hujan kerikil jatuh dari langit. Pertunjukan ini terasa sekali ingin membagi rasa sakit, kecemasan, dan kekhawatiran kepada penonton. Lalu sepanjang Orde Baru itu Rachman juga intens mengolah atribut dan lambang lembaga peradilan dan militer, dua lembaga yang mencerminkan kekerasan.