Pengakuan Investigasi Suap Dokter

Kado akhir tahun mengejutkan awak redaksi di tengah tenggat edisi ini, akhir pekan lalu: Indonesia Corruption Watch menobatkan liputan ”Jejak Suap Resep Obat” sebagai juara Anugerah Karya Jurnalistik Antikorupsi 2016. Liputan yang terbit pada 2 November 2015 itu menyisihkan dua kandidat juara lain. Bagi kami, penghargaan ini menambah semangat terus membuat liputan-liputan investigasi yang bermutu.

Liputan investigasi umumnya dibuat lebih lama dibanding liputan reguler. Liputan ”Suap Dokter” adalah penelusuran terhadap upaya sebuah perusahaan farmasi mendapatkan keuntungan dengan menyuap dokter agar membuat resep yang merujuk pada produk mereka. Tak mudah mengungkapnya karena ada banyak nama dokter yang tersebar dari Aceh hingga Papua yang terindikasi menerima komisi dari perusahaan farmasi. Pemerintah merespons cepat.

Empat hari setelah majalah ini terbit, Kementerian Kesehatan bekerja sama dengan Komisi Pemberantasan Korupsi merumuskan defnisi dan aturan gratifkasi agar praktek culas ini tak terus terjadi. Liputan ini bukan tanpa onak. Perusahaan yang ditulis itu menggugat ke Dewan Pers. Hasilnya, Dewan Pers menyatakan liputan tersebut sesuai dengan kaidah jurnalistik. Bagi kami, digugat merupakan risiko menjadikan liputan investigasi sebagai napas jurnalisme. Ikhtiar ini semata-mata untuk Anda, pembaca, agar mendapatkan informasi yang faktual, jujur, dan jernih.