“Perubahan orientasi pengembangan ke luar Pulau Jawa yang dilakukan beberapa developer dalam dua tahun terakhir mengindikasikan fenomena baru. Bahwa sesungguhnya kawasan-kawasan di luar Pulau Jawa memiliki potensi tak kalah besar ketimbang kota-kota di Jawa,” ucap Fakky Ismail Hidayat, Head Capital Market and Investment Knight Frank, saat ditemui di gedung Bursa Efek Indonesia (BEI).

Baca juga : Jual genset Surabaya

Yang menarik, area ini menjadi semakin panas dan ajang unjuk gigi para pengembang besar seperti Sinarmas Land, Lippo Group, Ciputra Group, Agung Podomoro Group, dan Pondok Indah Group. Properti di Indonesia timur pun makin “panas”. Untuk itu, rubrik Sudut kali ini tak hanya membahas tentang potret properti di daerah Jabodetabek, tetapi akan membahas 5 provinsi yang kami anggap memiliki pertumbuhan properti yang baik.

Kelima provinsi itu adalah Bandung, Semarang, Yogyakarta, Surabaya, dan Makassar sebagai wakil Indonesia timur. Mudah-mudahan dengan informasi yang kami berikan, Anda makin “terlecut” dan “ganas” memburu rumah impian Anda.

Kenaikan Harga Rumah di 2014 Melambat!

Ada hal menarik saat menghadiri undangan dari lembaga konsultan properti internasional, Cushman & Wakefeld di gedung WTC II, Jakarta, Februari lalu. Mereka mengungkapkan bahwa harga properti di tahun 2014 ini tidak akan sedahsyat 2-3 tahun sebelumnya. “Jika di tahun 2010-2013 kenaikan harga perumahan bisa mencapai 35- 60%, di tahun 2014 ini kenaikannya hanya berkisar di angka 15-20%,” ucap Arief Rahardjo, Senior Associate Director Research & Advisory kon sultan properti Cushman & Wakefeld.

Ali Tranghanda, Direktur Eksekutif Indonesia Property Watch mengungkapkan hal senada, bahwa kenaikan harga properti akan melambat di tahun 2014 ini. “Perlambatan ini merupakan siklus alami pasar properti. Hingga 2013, pasar properti masih mengalami kenaikan yang tinggi dan membuat jenuh. Kenaikan harga ini menyebabkan overvalue di beberapa wilayah,” ujar Ali. Di sisi lain, Arief meramalkan bahwa pengembang, investor, maupun pembeli akan lebih memilih langkah wait and see di 2014.

“Secara historis, pemilu 2004 dan 2009 memberi guncangan pada pasar properti meskipun hanya untuk sementara waktu,” ucap Arief. Sedikit banyak, adanya Pilpres ini juga berpengaruh terhadap harga properti. Jika ditelisik lebih teliti, kenaikan harga properti yang melambat di tahun ini menjadi sebuah keuntungan tersendiri dalam mendapatkan harga yang lebih terjangkau.