Badan Pengadaan Tetapkan Tarif OK-Otrip Rp 3.900

Hasil kajian terbaru Badan Pelayanan Pengadaan Barang dan Jasa (BPPBJ) Provinsi DKI Jakarta menghasilkan tarif rupiah per kilometer untuk program One Karcis, One Trip (OK-Otrip) sebesar Rp 3.600-3.900. Tapi tarif tersebut masih belum sesuai dengan keinginan pengusaha angkutan kota (angkot) yang akan dijadikan mitra program transportasi tersebut. Wakil Gubernur Sandiaga Uno mengatakan, dalam menyusun kajian tarif rupiah per kilometer, BPPBJ Jakarta menggunakan referensi dari Universitas Indonesia dan Kementerian Perhubungan.

Parameter penghitungan tarif rupiah per kilometer, antara lain, adalah biaya investasi, harga beli armada, konsumsi bahan bakar, dan suku cadang kendaraan. “Tarif rupiah per kilometer itu nantinya akan tayang dalam e-katalog sebagai panduan menyusun perjanjian kerja sama antara Transjakarta dan operator,” kata dia di Balai Kota, kemarin. Dokumen hasil kajian BPPBJ yang diperoleh Tempo menyebutkan tarif batas atas Rp 3.900 per kilometer akan digunakan apabila angkot yang bergabung dengan OK-Otrip hanya menempuh perjalanan 180 kilometer tiap hari.

Sedangkan tarif batas bawah Rp 3.600 untuk angkot yang menempuh jarak 200 kilometer. Sandiaga menuturkan tarif batas atas dan bawah diperlukan karena tingkat kemacetan berbeda pada tiap trayek. “Semakin macet (jarak tempuh semakin sedikit), semakin besar (tarif rupiah per kilometer atau menggunakan batas atas).” Sebelumnya, PT Transportasi Jakarta (Transjakarta) yang menjalankan program itu menawarkan tarif Rp 3.749 per kilometer. Tapi mayoritas pengusaha angkot menolak dengan alasan tidak menguntungkan.